Rupiah Belum Mampu Bangkit, Ekonom Soroti BI Rate hingga Kebijakan The Fed
Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (14/7/2026) pagi. Dikutip dari Kontan, rupiah di pasar spot dibuka di level Rp 18.116 per dollar AS atau melemah tipis 0,04 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 18.109 per dollar AS. Namun, pelemahan tersebut tidak berlangsung lama. Pada perdagangan sore, rupiah berhasil berbalik menguat sebesar Rp 18 atau 0,10 persen ke level Rp 18.091 per dollar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga menguat Rp 32 atau 0,18 persen menjadi Rp 18.099 per dollar AS.
Penyebab rupiah masih tertekan Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai nilai tukar rupiah saat ini masih berada dalam kondisi yang bersifat artifisial karena lebih banyak ditopang oleh kebijakan Bank Indonesia (BI), bukan oleh penguatan fundamental ekonomi. “Nilai rupiah saat ini artifisial. Penguatannya lebih banyak didukung oleh BI Rate yang tinggi, intervensi Bank Indonesia, serta penjualan fasilitas swap USD/IDR oleh BI dengan diskon biaya (fee discount),” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa.
Menurut Wijayanto, di saat yang sama perbaikan kebijakan fiskal maupun sektoral belum berjalan optimal sehingga belum mampu memperkuat sentimen positif terhadap rupiah. Ia juga menyoroti kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan bank sentral AS (The Fed). Inflasi AS yang masih berada jauh di atas target 2 persen, sementara tingkat pengangguran tetap berada dalam kisaran target, dinilai membuka peluang The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya (Fed Funds Rate).
“Jika The Fed kembali menaikkan suku bunga, rupiah akan kembali tertekan. Investor memahami faktor-faktor tersebut sehingga rupiah belum menunjukkan tren menguat, bahkan setelah S&P mempertahankan peringkat dan outlook Indonesia,” kata Wijayanto. Baca juga: Pemerintah Luncurkan Paket Stimulus Ekonomi Rp 26,34 Triliun, Ini Rinciannya Pergerakan mata uang Asia Mengutip Kontan, rupiah pada perdagangan Selasa sore menguat bersama sejumlah mata uang Asia lainnya. Won Korea Selatan naik 0,16 persen, diikuti dollar Singapura yang menguat 0,15 persen, yen Jepang 0,12 persen, yuan China 0,10 persen, dollar Taiwan 0,04 persen, serta ringgit Malaysia 0,15 persen.
Sebaliknya, rupee India melemah 0,64 persen, peso Filipina turun 0,21 persen, baht Thailand terkoreksi 0,05 persen, sedangkan dollar Hong Kong melemah tipis 0,006 persen. Sementara itu, indeks dollar AS yang mengukur kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap sejumlah mata uang utama dunia turun 0,11 persen ke level 101,12. Pelaku pasar saat ini masih menantikan rilis data inflasi AS sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi mendorong penguatan dollar AS, sedangkan inflasi yang melandai dapat kembali menekan indeks dollar.
Selain itu, pasar juga terus mencermati perkembangan risiko geopolitik global. Meski sempat memengaruhi pergerakan pasar, eskalasi terbaru antara AS dan Iran dinilai tidak memberikan dampak jangka panjang terhadap penguatan dollar AS. Baca juga: Media Singapura-Malaysia Soroti Rumor Reshuffle Kabinet Prabowo, Singgung Korupsi dan Pelemahan Rupiah