Fenomena Career Catfishing Meningkat, Gen Z Mengaku Dibingungkan Proses Rekrutmen Perusahaan
Jakarta – Mencari pekerjaan kini bukan hanya soal mengirim CV dan menghadiri wawancara. Di tengah persaingan kerja yang semakin ketat, muncul fenomena baru yang mulai banyak dikeluhkan oleh Generasi Z, yaitu career catfishing. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan situasi ketika perusahaan memberikan harapan kepada pelamar melalui proses rekrutmen yang tampak menjanjikan, tetapi kemudian menghentikan komunikasi, membatalkan proses tanpa penjelasan, atau bahkan mengiklankan lowongan yang ternyata tidak benar-benar dibuka.
Fenomena tersebut semakin ramai diperbincangkan di media sosial, terutama di LinkedIn, TikTok, dan berbagai forum karier. Banyak pencari kerja membagikan pengalaman mereka setelah melewati beberapa tahap seleksi, seperti tes kemampuan dan wawancara, namun tidak pernah lagi menerima kabar dari perusahaan. Sebagian lainnya mengaku telah memperoleh informasi bahwa mereka lolos ke tahap berikutnya, tetapi proses rekrutmen mendadak dihentikan tanpa alasan yang jelas.
Bagi banyak anggota Generasi Z yang baru memasuki dunia kerja, kondisi ini menimbulkan kebingungan sekaligus rasa frustrasi. Tidak sedikit pelamar yang menghabiskan waktu berhari-hari untuk mempersiapkan dokumen, mengikuti tes daring, hingga menghadiri beberapa sesi wawancara. Ketika proses tersebut berakhir tanpa kejelasan, mereka merasa usaha yang telah dilakukan tidak mendapatkan penghargaan yang layak.
Pengamat ketenagakerjaan menilai bahwa meningkatnya penggunaan sistem rekrutmen digital menjadi salah satu faktor yang memengaruhi fenomena tersebut. Saat ini banyak perusahaan menerima ribuan lamaran hanya dalam waktu singkat. Dengan jumlah kandidat yang sangat besar, tim rekrutmen sering kali kesulitan memberikan umpan balik kepada setiap pelamar. Meski demikian, para ahli menilai komunikasi yang transparan tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan kandidat terhadap perusahaan.
Selain minimnya komunikasi, beberapa pencari kerja juga mengeluhkan keberadaan lowongan yang tetap dipublikasikan meski proses perekrutan sebenarnya telah dihentikan atau posisi sudah terisi. Praktik seperti ini sering disebut sebagai ghost jobs, yaitu iklan lowongan yang masih aktif meskipun perusahaan belum atau tidak sedang melakukan perekrutan secara nyata. Kondisi tersebut membuat banyak pelamar menghabiskan waktu untuk melamar posisi yang pada akhirnya tidak menghasilkan proses seleksi.
Bagi perusahaan, menjaga pengalaman kandidat atau candidate experience kini menjadi aspek yang semakin penting. Di era media sosial, pengalaman negatif dalam proses rekrutmen dapat dengan cepat menyebar dan memengaruhi reputasi perusahaan sebagai tempat bekerja. Banyak perusahaan mulai memperbaiki sistem komunikasi dengan mengirimkan pemberitahuan otomatis kepada pelamar yang tidak lolos serta memberikan informasi mengenai perkembangan proses seleksi secara berkala.
Di sisi lain, Generasi Z juga mulai mengubah strategi mereka dalam mencari pekerjaan. Selain mengandalkan situs lowongan kerja, banyak pencari kerja memanfaatkan jaringan profesional melalui LinkedIn, mengikuti acara karier, membangun portofolio digital, hingga meningkatkan keterampilan melalui kursus daring. Kemampuan menggunakan teknologi, kecerdasan buatan (AI), serta pengalaman magang kini menjadi nilai tambah yang semakin diperhatikan oleh perekrut.
Para konsultan karier menyarankan agar pencari kerja tidak hanya berfokus pada satu perusahaan atau satu jenis pekerjaan. Mengirim lamaran ke berbagai perusahaan, memperluas jaringan profesional, dan terus meningkatkan kompetensi dinilai menjadi langkah yang lebih efektif dalam menghadapi pasar kerja yang kompetitif. Mereka juga mengingatkan agar pelamar tetap berhati-hati terhadap lowongan yang meminta pembayaran, data pribadi secara berlebihan, atau menawarkan proses perekrutan yang tidak transparan.
Meski menghadapi berbagai tantangan, optimisme di kalangan Generasi Z masih cukup tinggi. Banyak anak muda melihat proses pencarian kerja sebagai kesempatan untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan. Mereka juga semakin selektif dalam memilih perusahaan, dengan mempertimbangkan budaya kerja, peluang pengembangan karier, fleksibilitas, serta keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Seiring semakin berkembangnya teknologi dan berubahnya kebutuhan industri, proses rekrutmen diperkirakan akan terus mengalami transformasi. Perusahaan dituntut untuk membangun proses seleksi yang lebih terbuka dan efisien, sementara para pencari kerja perlu terus beradaptasi dengan perkembangan dunia kerja modern. Fenomena career catfishing menjadi pengingat bahwa transparansi dan komunikasi yang baik merupakan kunci dalam menciptakan hubungan yang sehat antara perusahaan dan calon karyawan.