Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
New Trend Blogs

My WordPress Blog

New Trend Blogs

My WordPress Blog

  • Home
  • Sample Page
  • Home
  • Sample Page
Subscribe
Close

Search

Uncategorized

Intelektual vs Emosional: Fathimah BEM UI Kritik dengan Elegan, Tiyo Lulusan Paket C Serang dengan Umpatan dan Hinaan

By seoceking
July 9, 2026 2 Min Read
0
 Belakangan ini, publik kembali disuguhkan dua gaya berbeda dalam menyuarakan kritik terhadap pemerintah dan kebijakan publik. Di satu sisi ada Fathimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI yang dikenal dengan pendekatan intelektual, data-driven, dan penyampaian yang elegan. Di sisi lain ada Tiyo Ardianto, eks Ketua BEM UGM lulusan Paket C, yang lebih dikenal dengan gaya blak-blakan, emosional, dan kerap disertai kata-kata kasar serta hinaan langsung.

Kedua figur ini kini menjadi simbol “dua wajah mahasiswa kritis” di Indonesia. Pertanyaannya: manakah yang lebih membawa kemajuan bagi gerakan mahasiswa dan masyarakat?Fathimah Azzahra: Kritis yang BermartabatFathimah Azzahra, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia angkatan 2023, saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI. Penampilannya dalam berbagai forum publik, termasuk saat menyampaikan aspirasi mahasiswa kepada pemerintah, mendapat perhatian luas.

Ia dikenal tidak hanya vokal, tetapi juga mampu menyusun argumen yang terstruktur. Kritiknya biasanya didukung data, fakta, dan analisis mendalam. Bahasanya tegas, namun tetap sopan dan elegan. Bahkan ketika menyentil kebijakan pemerintah seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau respons terhadap aspirasi mahasiswa, Fathimah tetap menjaga etika komunikasi.

Pendekatan ini menuai apresiasi dari banyak kalangan. Bagi pendukungnya, Fathimah merepresentasikan generasi mahasiswa intelektual yang mampu menjadi “suara akal sehat” di tengah hiruk-pikuk politik. Ia membuktikan bahwa menjadi kritis tidak harus kasar, dan menjadi tegas tidak harus menghina.Tiyo Ardianto: Emosi yang Meledak-ledakDi kubu lain, Tiyo Ardianto muncul dengan gaya yang sangat kontras. Eks pemimpin BEM UGM ini kerap menggunakan bahasa vulgar, kata-kata kasar, dan hinaan langsung saat menyampaikan kritik. Video-video pidatonya yang penuh umpatan seperti “anjing”, “babi”, “goblok”, dan berbagai hinaan lainnya viral di media sosial.

Pendekatannya memang mampu menggugah emosi massa, terutama di kalangan anak muda yang frustrasi dengan situasi politik dan ekonomi. Namun, banyak yang menilai cara ini justru kontraproduktif. Alih-alih membangun argumentasi yang kuat, Tiyo lebih sering terjebak pada serangan personal dan retorika emosional semata.

Bagi kritikusnya, gaya Tiyo mencerminkan “kritis ala TikTok” — keras, viral, tapi dangkal dan tidak substantif. Bahkan sebagian kalangan mahasiswa sendiri merasa citra gerakan mahasiswa menjadi rusak karena ulah seperti ini.Mengapa Perbedaan Ini Penting?Perbandingan antara Fathimah dan Tiyo bukan sekadar soal gaya bicara, melainkan soal kualitas substansi dan martabat gerakan mahasiswa.

  • Fathimah menunjukkan bahwa mahasiswa bisa menjadi kekuatan intelektual yang dihormati lawan politik sekalipun berbeda pandangan.
  • Tiyo menunjukkan risiko ketika kritik hanya mengandalkan emosi dan kata kasar, yang berpotensi menurunkan derajat pergerakan mahasiswa di mata publik.

Di era media sosial saat ini, gaya kasar memang mudah viral dan mendapat “like” serta dukungan dari kelompok yang sama marahnya. Namun, apakah itu membawa perubahan yang sesungguhnya? Atau justru hanya menciptakan polarisasi dan kebencian yang lebih dalam?

Gerakan mahasiswa Indonesia memiliki sejarah panjang yang penuh dengan intelektualitas dan keberanian. Dari era 1966, 1974, hingga Reformasi 1998, mahasiswa selalu menjadi kekuatan moral bangsa.

Hari ini, di tengah berbagai isu kompleks, bangsa ini membutuhkan lebih banyak suara seperti Fathimah Azzahra — kritis, berbasis data, elegan, dan membangun. Bukan suara yang hanya pandai berteriak dan menghina, melainkan suara yang mampu memberikan solusi dan pencerahan.

Dua wajah mahasiswa kritis ini menjadi cermin bagi generasi muda Indonesia: mau menjadi bagian dari solusi yang bermartabat, atau hanya menjadi bagian dari keributan yang sia-sia?

Tags:

BEM UGMBEM UIFathimah AzzahraGerakan MahasiswaMahasiswa IndonesiaTiyo Ardianto
Author

seoceking

Follow Me
Other Articles
Previous

Riset Ungkap Keunikan Gen Z Saat Cari Kerja dan Pilih Kantor

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Intelektual vs Emosional: Fathimah BEM UI Kritik dengan Elegan, Tiyo Lulusan Paket C Serang dengan Umpatan dan Hinaan
  • Riset Ungkap Keunikan Gen Z Saat Cari Kerja dan Pilih Kantor
  • Lagu Lalaki Langit merendahkan perempuan, Bupati Purwakarta disanksi Dedi Mulyadi dan dipanggil Kemendagri
  • Kasus FOMO (Fear Of Missing Out) Pada Gen Z Indonesia Dalam Fenomena Viral “WHIP PINK”

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • July 2026

Categories

  • Uncategorized
Copyright 2026 — New Trend Blogs. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by