Riset Ungkap Keunikan Gen Z Saat Cari Kerja dan Pilih Kantor
LinkedIn Mulai Ditinggalkan Gen Z, Instagram dan YouTube Kini Jadi Andalan Cari Kerja
Selama bertahun-tahun, LinkedIn menjadi platform utama untuk mencari pekerjaan dan membangun jaringan profesional. Namun, posisinya mulai tergeser, terutama di kalangan Generasi Z, yakni mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012.Riset terbaru dari Zety menunjukkan Gen Z tidak lagi menjadikan LinkedIn sebagai sumber utama untuk mencari pekerjaan maupun mendapatkan nasihat karier. Sebaliknya, mereka lebih banyak mengandalkan YouTube dan Instagram.Survei terhadap 919 pekerja Gen Z berusia 18–27 tahun di Amerika Serikat itu menemukan seluruh responden (100 persen) menggunakan media sosial untuk mencari nasihat karier. Bahkan, 45 persen mengaku lebih mempercayai saran dari kreator konten dan influencer dibanding penasihat karier atau perekrut profesional.Platform yang paling banyak digunakan untuk mencari nasihat karier adalah YouTube (80 persen), Instagram (73 persen), Facebook (40 persen), X (38 persen), TikTok (32 persen), Reddit (30 persen), dan LinkedIn (26 persen). Hasil tersebut menempatkan LinkedIn di posisi terakhir.
LinkedIn Kena Ick
Di kalangan Gen Z muncul istilah ick untuk menggambarkan rasa tidak nyaman terhadap LinkedIn. Platform ini dinilai semakin dipenuhi konten yang terasa tidak autentik, mulai dari unggahan berbasis AI hingga cerita sukses yang dianggap sekadar ajang pencitraan.Akibatnya, LinkedIn memberi kesan bahwa semua orang tampak memiliki karier yang jauh lebih sukses dibanding pengguna lainnya. Alih-alih memotivasi, suasana seperti ini justru membuat sebagian Gen Z enggan menggunakannya.
Instagram Jadi Tempat Cari Kerja
Sebaliknya, Instagram kini berkembang menjadi tempat mencari pekerjaan, membangun jaringan profesional, memperoleh nasihat karier, sekaligus mengenal budaya perusahaan.Sebanyak 74 persen responden menggunakan Instagram untuk memperluas jaringan profesional, sementara 69 persen mengaku pernah mendapatkan pekerjaan atau kesempatan magang melalui platform tersebut. Secara keseluruhan, 98 persen mengatakan media sosial pernah membantu mereka memperoleh pekerjaan.Selain Instagram, platform lain yang dimanfaatkan untuk mencari pekerjaan atau magang adalah Facebook (39 persen), X (36 persen), Reddit (30 persen), dan TikTok (28 persen).
Vibe Check Sebelum Melamar
Hampir seluruh responden (99 persen) mengaku mengecek akun media sosial perusahaan sebelum mengirim lamaran kerja. Praktik yang dikenal sebagai vibe check ini dilakukan untuk menilai budaya perusahaan sebelum memutuskan melamar.Hal yang paling sering membuat Gen Z mengurungkan niat melamar adalah konten yang terasa tidak autentik (63 persen), unggahan bernuansa politik atau kontroversial (59 persen), pesan yang tidak konsisten di berbagai platform (44 persen), komentar negatif dari pelanggan atau mantan karyawan (24 persen), serta perusahaan yang lebih menonjolkan fasilitas daripada makna pekerjaan (22 persen).
Mengapa Gen Z Berbeda?
Jasmine Escalera, penasihat karier sekaligus penulis laporan Zety, mengatakan perbedaan tersebut dipengaruhi oleh cara Gen Z tumbuh bersama media sosial.”Gen Z dibesarkan di Instagram, jadi wajar jika tempat mereka bersosialisasi juga menjadi tempat mereka mencari informasi tentang pekerjaan,” ujarnya.
Menurut Escalera, Gen Z lebih menyukai perusahaan yang tampil autentik dibanding terlalu formal.
Konten Viral Ikut Mengubah Keputusan Karier
Media sosial juga memengaruhi berbagai keputusan karier Gen Z. Sebanyak 60 persen responden mengaku pernah berpindah bidang pekerjaan karena konten media sosial. Selain itu, 41 persen memulai side hustle, 36 persen mengundurkan diri, 31 persen menjadi pekerja lepas, 27 persen bernegosiasi soal gaji, dan 16 persen mengikuti kursus atau sertifikasi.Namun, 94 persen responden juga mengaku pernah mengikuti nasihat karier di media sosial yang belakangan terbukti keliru atau merugikan. Temuan inilah yang membuat Zety menamai laporannya “Misinfluence Report”, gabungan dari kata misinformation dan influence.
Perusahaan Harus Berpikir Seperti Kreator
Survei ini menunjukkan perusahaan perlu membangun kehadiran yang lebih autentik di media sosial untuk menarik talenta Gen Z. Konten di balik layar (behind the scenes), seperti suasana kantor dan aktivitas karyawan, dinilai lebih meyakinkan dibanding sekadar menampilkan daftar fasilitas atau pencapaian perusahaan.Meski responden hanya berasal dari Amerika Serikat, survei ini menunjukkan media sosial kini tidak lagi sekadar menjadi tempat hiburan, tetapi juga ruang membangun karier dan memengaruhi keputusan profesional.